Rabu, 01 April 2020

Wahyu dalam Al-Qur'an


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Wahyu
Wahyu menurut bahasa atau etimologi adalah isyarat yang cepat.Wahyu juga diambil dari kata Waha-Yahi-Wahyan, yang secara bahasa berarti suara, kecepatan, bisikan, rahasia, dan tulisan.Sedangkan secara Terminologi adalah informasi Allah menyangkut agama atau semacamnya yang disampaikan kepada nabi-Nya[1].Wahyu pada makna isim maf’ul ialah kalam Allah yang diturunkan kepada salah seorang nabi-Nya, maksudnya ialah wahyu itu ditinjau dari siapa yang menerimanya[2]. Jika wahyu pada makna masdhar ialahpengetahuan yang didapatkan seseorang dari dirinya disertai keyakinan bahwa pengetahuan tersebut berasal dari Allah,  baik melalui perantara maupun tanpa perantara.
Jadi, wahyu merupakan pemberitahuan Allah SWT kepada orang yang dipilih dari beberapa hamba-Nya mengenai beberapa petunjuk dan ilmu pengetahuan yang hendak diberitahukannya tetapi dengan cara yang tidak biasa bagi manusia, baik dengan perantaraan atau tidak dengan perantaraan. Hadirnya wahyu sebagai sumber dan dasar pokok ajaran islam, seluruh pemahaman dan pengamalan ajaran islam harus merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits. Sebab, manusia sejatinya diciptakan Allah SWT dengan tujuan yang jelas, yaitu sebagai hamba Allah dan Khalifah(pemimpin) dan untuk tercapinya tujuan tersebut Allah membekali wahyu sebagai petunjuk-Nya. Manusia harus memahami wahyu itu sendiri, terutama muslim sebagai objek pelaku dikehidupan harus menyadari bahwasanya wahyu itu datang membawakan banyak informasi. Informasi yang sangat berguna, yakni wahyu memberi informasi pengetahuan bagaimana caranya berterima kasih kepada tuhan-Nya yang telah menciptakan dan menyempurnakan tubuh ini. Mensyukuri nikmat yang Allah berikan dengan cara mengaplikasikan pesan makna wahyu atau Al-Qur’an dan Sunnah didalam kehidupan. Selain itu, wahyu secara tidak langsung sebenarnya adalah senjata yang Allah berikan kepada nabi-nabi-Nya untuk melindungi diri serta umat dan pengikut-pengikutnya dari ancaman berbahaya orang-orang yang tidak menyukai keberadaannya. Dan sebagai bukti bahwa beliau adalah utusan sang pencipta yaitu Allah SWT.

B.     Ayat-ayat Alquran tentang wahyu
     Terdapat 77 kali kata wahyu menggunkan kata wahyun untuk beberapa pengertian. Diantaranya[3]:
1.)    Wahyu dalam arti ilham berupa pemberitahuan atau petunjuk untuk manusia bersifat fitrah, seperti dalam surat Al-Qashash ayat 7:
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖفَإِذَاخِفْتِعَلَيْهِفَأَلْقِيهِفِيالْيَمِّوَلَاتَخَافِيوَلَاتَحْزَنِيۖإِنَّارَادُّوهُإِلَيْكِوَجَاعِلُوهُمِنَالْمُرْسَلِينَ
Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil).Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. (QS. Al-Qashash: 7).
2.)    Wahyu dalam arti ilham (instink) untuk hewan bersifat naluri, seperti dalam surat An-Nahlayat 68:
وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
     Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". (QS. An-Nahl: 68)
     Para ulama berpendapat bahwa inilah yang disebut sebagai ilham insting yang dimiliki binatang[4]. Yang dimaksud dengan wahyu dalam ayat ini ialah ilham, petunjuk dan bimbingan dari Allah kepada lebah agar lebah membuat sarangnya di bukit-bukit juga dipohon-pohon serta ditempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian berkat adanya ilham dari Allah ini lebah membangun rumah (sarang)nya dengan sangat rapi struktur dan tersusun. Kemudian Allah SWT menganugerahkan insting kepada lebah untuk makan dari sari buah-buahan dan menempuh jalan-jalan yang telah dimudahkan oleh Allah baginya, sehingga lebah dapat menempuh jalan udara yang luas, padang sahara yang membentang luas, lembah-lembah dan gunung-gunung yang tinggi menurut apa yang disukainya. Lalu masing-masing lebah dapat kembali ke sarangnya, tempat ia meletakkan telur-telurnya dan madu yang dibuatnya. Lebah membangun lilin untuk sarangnya dengan kedua sayapnya dan dari mulutnya ia muntahkan madu, sedangkan lebah betina mengeluarkan telur dari duburnya kemudian menetas dan terbang ke tempat kehidupannya.

3.)    Wahyu dalam arti isyarat dengan cepat, seperti firman Allah Ta’ala:
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang. (QS. Maryam: 11)
Dalam tafsir jalalain menafsirkan dengan kata Asyaaro yang menunjukkan isyarat yaitu suatu hal yang dilakukan oleh indra baik yang berupa dzohir (luar) maupun yang batin (dalam)[5]. Makna wahyu pada ayat ini ialah suatu isyarat yang cepat (reflek) dengan memberikan isyarat berupa simbol atau tanda. Ayat ini menjelaskan tentang nabi Zakariya yang keluar dari mushallanya ketika memerintahkan kaumnya untuk bertasbih pada waktu pagi dan petang, sedangkan saat itu ia sedang menjalankan perintah Allah SWT untuk tidak berbicara kepada manusia sebagai tanda atas kebenaran janji Allah SWT kepadanya untuk memberikan anak. Oleh karena itu nabi Zakariya secara reflek memberikan isyarat kepada kaumnya dengan menggunakan tangannya dan dengan sesuatu yang lainnya.
4.)    Wahyu dalam arti bisikan atau rayuan, dan ini terdapat dalam surat Al-An’am ayat 121:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗوَإِنَّالشَّيَاطِينَلَيُوحُونَإِلَىٰأَوْلِيَائِهِمْلِيُجَادِلُوكُمْۖوَإِنْأَطَعْتُمُوهُمْإِنَّكُمْلَمُشْرِكُونَ
        Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. Al-An’am: 121)
        Dalam ayat tersebut fi’il mustaqbalnya Yuuhuu menggunakan arti Yuwaswisu (membisiki)[6].Makna wahyu dalam ayat ini bermakna bisikan setan kepada rekan-rekannya agar mereka membisikan kepada manusia untuk membantah apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasulnya berupa larangan memakan bangkai dan daging hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah SWT  atau untuk mengerjakan kejelekan dan kejahatan diantara umat manusia.
5.)    Wahyu dalam arti pemberitahuan dan perintah Allah swt kepada malaikat, seperti dalam surat Al-Anfal ayat 12:

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا ۚسَأُلْقِيفِيقُلُوبِالَّذِينَكَفَرُواالرُّعْبَفَاضْرِبُوافَوْقَالْأَعْنَاقِوَاضْرِبُوامِنْهُمْكُلَّبَنَانٍ
        (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku brsama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (QS. Al-Anfal: 12).
Ingatlah, waktu Allah mewahyukan kepada kepada malaikat dengan jalan ilham bahwa Allah menolong dan menguatkan mereka serta Allah menyuruh mereka untuk memantapkan hati para mukmin dan membulatkan kemauannya[7]. Yaitu seribu malaikat yang tak kelihatan pada mata, yang telah dirasai adanya oleh malaikat itu. Malaikat itulah yang diperintahkan oleh Allah agar menyampaikan titah Allah kepada mereka[8].

C.     Interpretasi
            Alquran menggunakan kataأَوْحَىٰdalam salah satu bentuk untuk menunjukkan aktivitas sebuah proses turunnya wahyu. Dalam surat An-nahl ayat 68 memberikan informasi bahwa Allah memberikan wahyu yang diartikan para mufassir bahwu wahyu itu adalah dengan arti ilham berupa instink kepada hewan lebah, sunnguh Allah begitu kasih sayang kepada semua makhluknya[9]
            Alquran juga menggunakan kata أُوحِيَ dalam salah satu bentuk untuk menunjukkan pewahyuan Alquran yang dibawa Nabi Muhammad saw. Dalam surat Al-An’am ayat 19 dijelaskan:

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖقُلِاللَّهُۖشَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚوَأُوحِيَإِلَيَّهَٰذَاالْقُرْآنُلِأُنْذِرَكُمْبِهِوَمَنْبَلَغَۚأَئِنَّكُمْلَتَشْهَدُونَأَنَّمَعَاللَّهِآلِهَةًأُخْرَىٰۚقُلْلَاأَشْهَدُۚقُلْإِنَّمَاهُوَإِلَٰهٌوَاحِدٌوَإِنَّنِيبَرِيءٌمِمَّاتُشْرِكُونَ
                                Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu.Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui". Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)". (QS. Al-An’am:19)
                        Maksud ayat diatas telah jelas bahwa Nabi Muhammad saw pemberi peringatan berupa Al-quran bagi siapa sajadan secara umum[10]. Wahyu di sini adalah al-Qur’an al-Karim yang menegaskan keesaan Allah melalui ayat ini dan ayat-ayat lain, sedangkan al-Qur’an itu sendiri adalah bukti kebenaran yang jelas. Firman-Nya yang menggambarkan fungsi al-Qur’an sebagai peringatan kepada masyarakat yang Nabi Muhammad saw temui dan yang dijangkau ajakan al-Qur’an dari satu sisi menunjukan bahwa risalah beliau bersifat umum, tidak hanya untuk orang-orang arab, tidak juga untuk masyarakat manusia pada masa beliau, tetapi untuk manusia seluruhnya kapan dan di mana pun mereka berada[11].
D.    Proses turunnya wahyu
            Wahyu pertama kali turun pada malam lailatul qadar 17 Ramadhan ketika usia Nabi Muhammad 41 tahun (610 M.). Gua Hiro menjadi tempat turunnya pertama kali (tempat nabi mengasingkan diri). Ayatnya surat Al-Alaq 1-5. Wahyu ini diturunkan melalui utusan malaikat jibril dalam bentuk kata kata atau sama halnya pada ayat Al-An’am ayat 19.[12]
Dalam tahapannya wahyu itu berasal dari Allah SWT kemudian disampaikan kepada malaikat dan diteruskan sampai kepada Rasulullah SAW, terdapat beberapa cara wahyu itu disampaiakan:
Pertama: Tata cara Allah SWT menyampaikan wahyu kepada malaikat-malaikat-Nya, para ulama berbeda pendapat[13]
a.       Pendapat pertama: Jibril menerima al-Qur’an dari Allah melalui pendengaran dengan lafal khusus.
b.      Pendapat kedua: Jibril menghafal al-Qur’an dari Lauhul Mahfuzh.
c.       Pendapat ketiga: Makna al-Qur’an disampaikan kepada jibril, dan lafal-lafalnya dari jibril atau dari Muhammad SAW.
Pendapat pertama adalah pendapat yang tepat. Pendapat ini dianut oleh ahlussunnah wal Jamaah dan dikuatkan dengan hadits Nawwas bin Sam’an sebelumnya.Jelas bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah dengan Lafal-lafal-Nya bukan kalam jibril ataupun Muhammad Saw.Allah SWT berfirman dalam surat yunus ayat 15:
وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ ۙقَالَالَّذِينَلَايَرْجُونَلِقَاءَنَاائْتِبِقُرْآنٍغَيْرِهَٰذَاأَوْبَدِّلْهُۚقُلْمَايَكُونُلِيأَنْأُبَدِّلَهُمِنْتِلْقَاءِنَفْسِيۖإِنْأَتَّبِعُإِلَّامَايُوحَىٰإِلَيَّۖإِنِّيأَخَافُإِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini atau gantilah dia". Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)". (QS. Yunus: 15)
Allah mengabarkan tentang keresahan orang-orang kafir Quraisy yang mendustakan kebenaran dan berpaling darinya, sesungguhnya mereka jika Rasulullah menghampiri mereka, mereka berkata: i’ti biqur-aanin ghairi Haadzaa “Datangkanlah olehmu al-Qur’an selain ini” maksudnya kembalikanlah al-Qur’an ini dan datangkanlah kepada kami yang selainnya, atau gantilah ia dengan isi yang lain.Allah berfirman kepada Nabi-Nya dan Rasul yang menyampaikan risalah dari Allah: qul maa yakuunu lii an ubaddilaHuu min tilqaa-ii nafsii “Katakanlah: ‘Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri”. maksudnya tidaklah seperti itu. Sesungguhnya aku hanyalah hamba yang diperintahkan dan Rasul yang menyampaikan risalah dari Allah.In attabi’u illaa maa yuuhaa ilayya innii akhaafu in ‘ashaitu rabbii ‘adzaaba yaumin ‘adhiim “Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai Rabbku kepada siksa hari yang besar (Kiamat)”.
Kedua: tata cara Allah menyampaikan wahyu kepada para rasul-Nya. Terdapat dua tahapan bagaimana Allah SWT menyampaikan wahyu kepada para rasul-Nya, yaitu
·         Allah menyampaikan wahyu melalui perantara malaikat jibril
·         Allah menyampaikan wahyu Tanpa melalui perantara
Termasuk tata cara kedua (tanpa melalui perantara) adalah seperti mimpi yang benar saat tidur. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Ia berkata, “permulaan wahyu datang kepada Rasulullah SAW adalah berupa mimpi di dalam tidur, melainkan mimpi itu datang seperti rekahan cahaya subuh”[14]. Diantara dalil yang menunjukan bahwa mimpi para nabi adalah wahyu yang wajib dilaksanakan adalah mimpi dalam lisah Nabi Ibrahim. Ia bermimpi menyembelih anaknya, Ismail. Allah berfirman dalam surat Ash-Shaffat ayat 101-112
Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku!Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu.Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!”Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku!Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”.Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim!sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, ”Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishak seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. (QS. Ashaffat. 101-112).
Ketiga: tata cara malaikat menyampaikan wahyu kepada rasul. Malaikat menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW yaitu melalui salah satu dari dua kondisi berikut:Kondisi pertama: kondisi ini paling berat bagi Rasulullah SAW adalah wahyu datang seperti bunyi lonceng dan suara keras yang menggerakan seluruh unsur perhatian, sehingga jiwa dengan sepenuh kekuatannya siap menerima pengaruhnya. Ketika wahyu turun kepada Rasulullah SAW dengan cara seperti ini, beliau menyatukan seluruh kekuatan nalar untuk menerima, menghafal, dan memahami wahyu yang disampaikan. Suara yang dimaksud mungkin bersumber dari kepakan sayap-sayap para malaikat yang disebutkan dalam hadist, “apabila Allah memutuskan suatu persoalan di langit, maka para malaikat mengepakkan syap-sayap mereka seraya menunduk pada firman-nya, (firman yang didengar) laksana (suara) rantai di atas batu licin”. Atau mungkinjuga suara malaikat itu sendiri di awal menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW. Kondisi kedua: malaikat mendatangi Rasulullah SAW dalam wujud seseorang manusia. Kondisi ini lebih ringan dari sebelumnya karena ada keselarasan antara yang berbicara dan yang mendengar, Rasulullah merasa senang ketika mendengarnya dan beliau merasa tenang seperti perasaan tenang seseorang kepada saudaranya sesama manusia.
Kedua kondisi ini tertera dalam riwayat dari Aisyah Ummul Mukminin bahwa Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Raulullah bagaimanakah cara wahyu datang kepadamu?” Rasulullah SAW menjawab, “Terkadang wahyu datang kepadaku seperti bunyi lonceng, dan cara ini paling berat bagiku. Setelah wahyu selesai disampaikan, aku memahami darinya (jibril) apa yang ia katakan. Dan terkadang malaikat menampakkan wujud kepadaku (dalam wujudnabusia), lalu ia berbicara kepadaku, lalu aku memahami apa yang ia ucapkan”[15].

Perbedaan arti wahyu, ilham dan ta’lim
A.)  Wahyu ayatnya:
فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَىٰ
      Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. (QS. An-Najm: 10)
      Jibril mewahyukan kepada hamba Allah muhammad saw apa yang harus disampaikan, maka Allah memberikan wahyu kepada hamba-Nya muhammad saw melalui jibril[16]. Firman-Nya (مَا أَوْحَىٰ) mengisyaratkan bahwa wahyu yang disampaikan itu adalah sesuatu yang sangat agung, yang dampaknya terhadap umat manusia bahkan alam semesta amatlah besar[17].
B.)  Ilham ayatnya:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
      Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS. As-Syamsu: 8)
      Kata ilham atau hidayah dalam ayat ini lebih sesuai bila diterjemahkan dengan potensi, potensi itu diciptakan Allah di dalam jiwa manusia, sehingga dia dapat menggunakannya sesuai dengan hidayah atau selera. Disamping potensi yang terdapat di dalam diri setiap individu manusia, maka pada ayat ini juga diterangkan konsekuensi dari setiap tindakan yang dikeluarkan dari potensi itu. Barang siapa yang menggunakan potensi positif untuk menyucikan jiwa, melaksanakan kebaikan dan berusaha untuk melawan potensi negatif, maka dia beruntung. Barang siapa yang mengikuti potensi negatif maka dia telah merugi. Tujuan dari disebutkannya konsekuensi ini agar benih-benih kebaikan dapat tumbuh subur dibumi ini. Disisi lain, untuk menegaskan bahwa setiap tindakan tidak lepas dari konsekuensinya[18].

C.)  Ta’lim ayatnya:
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖإِنَّكَأَنْتَالْعَلِيمُالْحَكِيمُ
      Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". (QS. Al-Baqoroh: 32)
Jika seseorang ditanya tentang sesuatu pengetahuan, sementara dia tidak mengetahuinya maka dia wajib mengatakan “Allah lebih mengetahui sedang aku tidak tahu”. Hal ini dilakukan karena mengikuti tindakan para malaikat, para nabi dan ulama yang terkemuka. Namun nabi memberitahukan bahwa pengetahuan telah diambil seiring dengan wafatnya para ulama. Sehigga, yang tersisa hanyalah orang-orang bodoh yang dimintai fatwa, lalu mereka mengeluarkan fatwa berdasarkan kepada pendapat mereka, sehingga mereka pun menjadi menyesatkan dan disesatkan[19].
Perbedaannya yaitu:
·         Wahyu: Pintunya telah ditutup setelah Nabi akhir zaman Nabi Muhammad saw
·         Ilham: Pintunya selalu terbuka selagi masih ada manusia yang bertaqorrub kepada Allah swt
·         Ta’lim: Pintunya bisa terbuka dan tertutup selama manusia masih terus belajar atau sebaliknya[20].








BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwasemua kata wahyu yang terkandung dalam al-quran mengandung makna yang berbeda-beda, istilahwahyu yang tertulis didalam al-quran bukan hanya menunjukkan wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw saja melainkan wahyu berupa iham yang diberikan kepada hewan lebah dll. Esensi yang bisa kita tangkap adalah manusia itu diciptakan untuk terus dinamis seperti halnya hewan lebah yang disuruh membuat rumah di pohon, manusia di bumi hakikatnya menciptakan cerita yang indah yang dapat memberi motivasi serta kemanfaatan bagi zaman sekarang dan yang akan datang.
Demikian makalah singkat ini, mohon maaf atas segala kekurangan dan semoga bermanfaat.Aamiin.


[1] Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi, hlm. 288
[2]Syaikh Manna’ Al-Qatthan, Dasar-Dasar Ilmu Al-Qur’an,hlm. 52
[3]Abd.Rozak & Aminuddin, Studi Ilmu Alquran, hlm. 1-3
[4]Jalaluddin As-Suyuti wal Mahali, Tafsir Jalalain, juz 1, hlm. 221
[5]Jalaluddin As-Suyuti wal Mahali, Tafsir Jalalain, juz 2, hlm.13
[6]Jalaluddin As-Suyuti wal Mahali, Tafsir Jalalain, juz 1, hlm. 125
[7]Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur jilid 2, hlm. 1556
[8]Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al-Azhar jilid4 , hlm. 2702
[9]Jalaluddin As-Suyuti wal Mahali, Tafsir Jalalainjilid 1, hlm.221
[10]Abdul Aziz, Tafsir Adhwa’ul Bayan, hlm. 287
[11]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah jilid 4, hlm 46
[12]Abd Rozak & Aminuddin, Studi Ilmu Alquran, hlm. 15
[13]Syaikh Manna’ Al-Qatthan, Dasar-Dasar Ilmu Al-Qur’an,hlm.56
[14]Syaikh Manna’ Al-Qatthan, Dasar-Dasar Ilmu Al-Qur’an, hlm. 58
[15]Syaikh Manna’ Al-Qatthan, Dasar-Dasar Ilmu Al-Qur’an, hlm. 62
[16]Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, hlm 226
[17]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah jilid 13, hlm 413
[18]Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi, Tafsir Sya’rawi Jilid 15, hlm 317.
[19]Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, hlm. 630
[20]Abd.Rozak & Aminuddin, Studi Ilmu Alquran, hlm. 16

penjelasan Surat Hud Ayat 8-11


BAB II
PEMBAHASAN
A. Ayat dan Terjemahan
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَلَىِٕنْ اَخَّرْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ اِلٰٓى اُمَّةٍ مَّعْدُوْدَةٍ لَّيَقُوْلُنَّ مَا يَحْبِسُهٗ ۗ  اَلَا يَوْمَ يَأْتِيْهِمْ لَيْسَ مَصْرُوْفًا عَنْهُمْ وَحَاقَ بِهِمْ مَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ  - ٨  وَلَىِٕنْ اَذَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنٰهَا مِنْهُۚ اِنَّهٗ لَيَـُٔوْسٌ كَفُوْرٌ - ٩
وَلَىِٕنْ اَذَقْنٰهُ نَعْمَاۤءَ بَعْدَ ضَرَّاۤءَ مَسَّتْهُ لَيَقُوْلَنَّ ذَهَبَ السَّيِّاٰتُ عَنِّيْ ۗاِنَّهٗ لَفَرِحٌ فَخُوْرٌۙ – ١٠ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ - ١١
“Dan sungguh, jika Kami tangguhkan azab terhadap mereka sampai waktu yang ditentukan, niscaya mereka akan berkata, “Apakah yang menghalanginya?” Ketahuilah, ketika azab itu datang kepada mereka, tidaklah dapat dielakkan oleh mereka. Mereka dikepung oleh (azab) yang dahulu mereka memperolok-olokkannya (8). Dan jika Kami berikan rahmat Kami kepada manusia, kemudian (rahmat itu) Kami cabut kembali, pastilah dia menjadi putus asa dan tidak berterima kasih (9). Dan jika Kami berikan kebahagiaan kepadanya setelah ditimpa bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, “Telah hilang bencana itu dariku.” Sesungguhnya dia (merasa) sangat gembira dan bangga, (10). kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar(11)”.



B. Penjelasan Tafsir
a.       Ayat 8
Didalam kitab tafsir ibnu jazy
  
  

Didalam tafsir ibnu jazy [1], menjelaskan bahwasanya Allah menangguhkan azab manusia, menunda datangnya azab orang yang mendustakan kekuasaan Allah sampai batas ketetapan waktu yang ditentukan. Azab disini ialah didunia dan diakhirat. Mereka akan mendapatkan kedua azab tersebut namun Allah memiliki kekuasaan untuk melambatkan azabnya didunia. Lalu mereka yaitu orang munafik bertanya dan berkata “apa yang menyebabkan azab ini tak menimpa kami sampai batasan waktu yang dijanjikan”. Pertanyaan ini ditunjukan untuk niat mengejek, bermaksud mendustakan dan meremehkan azab yang tak kunjung menimpa mereka. Hal itu seolah mengecap bahwa kekuasaan Allah tak ada.
Lalu Allah SWT menegaskan bahwasanya ketika azab itu datang menimpa mereka, semua orang munafik akan terkena azab itu dan tidak bisa mengelaknya. Dari sudut manapun akan terkena azab, dimanapun mereka berada azab selalu menimpa mereka. Pertanyaan yang mereka anggap remeh terjawab dengan azab yang Allah tampakkan menyertainya.

b          b.      Ayat 9 -11
      Penjelasan ayat kesembilan didalam tafsir Al-baghwy;
قوله تعالى: { وَلَئِنْ أَذَقْنَا الإنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً } نعمة وسعة، { ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ } أي: سلبناها منه،    { إِنَّهُ لَيَئُوس } قنوط في الشدة، { كَفُورٌ } في النعمة.[2]

Didalam tafsir al-baghwy, dijelaskan bahwa rahmat Allah yang diberikan kepada manusia itu ialah berupa nikmat yang begitu luas, besar. Yang kemudian apabila suatu waktu Allah cabut nikmat itu, maka mereka orang munafik akan kufur nikmat atau berputus asa tidak berterima kasih. Ayat ini menerangkan tentang celaan seseorang yang mudah berputus asa ketika mendapatkan suatu kesulitan, dan celaan orang yang membangkang, sombong ketika mendapatkan suatu rahmat atau kenikmatan. Allah mencela mereka dengan cara mencabut nikmat-Nya, baik sedikit maupun banyak.
Didalam tafsir ibnu katsir;
يخبر تعالى عن الإنسان وما فيه من الصفات الذميمة، إلا من رحم الله من عباده المؤمنين، فإنه إذا أصابته شدة بعد نعمة، حصل له يأس  وقنوط من الخير بالنسبة إلى المستقبل، وكفر وجحود لماضي الحال، كأنه لم ير خيرا، ولم يَرْج  بعد ذلك فرجا. وهكذا إن أصابته نعمة بعد نقمة { لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي } أي: يقول: ما بقي ينالني بعد هذا ضيم ولا سوء، { إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ } أي: فرح بما في يده، بطر فخور على غيره. قال الله تعالى: { إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا } أي: في الشدائد والمكاره، { وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ } أي: في الرخاء والعافية، { أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ } أي: بما يصيبهم من الضراء، { وَأَجْرٌ كَبِيرٌ } بما أسلفوه في زمن الرخاء، كما جاء في الحديث: "والذي نفسي بيده، لا يصيب المؤمن هَمٌّ ولا غَمٌّ، ولا نَصَب ولا وَصَب، ولا حَزَن حتى الشوكة يشاكها، إلا كَفَّرَ اللهُ عنه بها من خطاياه ، وفي الصحيحين: "والذي نفسي بيده، لا يقضي الله للمؤمن قضاء إلا كان خيرا له، إن أصابته سراء فشكر كان خيرا له، وإن أصابته ضراء فصبر كان خيرا له، وليس ذلك لأحد غير المؤمن" [3] وهكذا قال الله تعالى: { وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ } [ سورة العصر]، وقال تعالى: { إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا إِلا الْمُصَلِّينَ } الآية [المعارج:19 -22].[4]
Penjelasan didalam tafsir ibnu kasir bahwasanya Allah swt menggambarkan sosok manusia dan sifat-sifat tercela yang dimilikinya. Buruknya sifat manusia yaitu apabila mendapatkan musibah setelah kenikmatan yang diraihnya, maka ia akan berputus asa atas apa yang dilakukannya, merasa bahwa kebaikan nikmat yang pernah diraih sebelumnya tak bearti dikehidupan. Berputus asa untuk maju kedepan seolah-olah terputus pupus kabaikan untuk melangkah maju kedepannya dan mengingkari kebaikan yang dulu pernah diperbuat tidak berlaku kebaikan itu untuk masa saat ditempuh ataupun masa yang dihadapinya. Artinya saat mendapatkan musibah, dia berputus asa dari kebaikan nikmat yang pernah diraihnya dan tidak ikhtiar untuk keluar dari musibah yang dialaminya, maka tidak ada rasa keinginan untuk berbuat baik mendaptkan nikmat justru keburukan yang ditampakan saat mendapatkan musibah.
Penjelasan ayat kesepuluh dijelaskan didalam tafsir ibnu katsir, yaitu tentang keadaan seseorang ketika berhasil lolos dari musibah yang menerpa. Keadaannya sangat gembira, senang karena keberhasilan menghampirinya, semua keberhasilan itu dilalui  atas dasar dirinya, maka hal itu mereka bersikap angkuh, sombong kepada orang lain.
Selanjutnya ayat kesebelas, Allah mengecualikan bagi orang-orang yang sabar menghadapi bencana dan mengerjakan amal-amal shaleh.  Artinya tidak termasuk kedalam golongan sifat tercela bagi mereka yang bersabar dan terus melakukan amal kebaikan saat didatangkan musibah. Lalu Allah menutup ayat ini dengan ganjaran ampunan dosa serta karunia pahala yang besar karena atas semua perbuatan makmur hingga masa-masa sejahteranya. Didalam kitab shahihain dijelaskan bahwa:
"والذي نفسي بيده، لا يقضي الله للمؤمن قضاء إلا كان خيرا له، إن أصابته سراء فشكر كان خيرا له، وإن أصابته ضراء فصبر كان خيرا له، وليس ذلك لأحد غير المؤمن"
“Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggam kekuasaannya, tidak sekali-kali Allah memutuskan bagi orang mukmin suatu keputusan melainkan hal itu baik baginya. Jika dia beroleh kegembiraan, maka dia akan bersyukur, dan bersyukur itu baik bagiya. Dan jika ia tertimpa kesedihan maka ia bersabar, dan bersabar itu baik baginya. Hal itu tidak dimiliki oleh seorangpun selain orang mukmin”.
C. Analisis
            Dari penjelasan bererapa penafsir yang telah disebutkan diatas, menurut saya bersikaplah sbagaimana muslim yang baik dan benar, jangan sombong ketika disituasi keberhasilan, jangan mengeluh ketika mendapatkan musibah, dan tetap bersyukuri didalam situasi apapun. Sebab apabila Allah murka akan diturunkannya azab dan tidak ada seorangpun yang bisa mengelak azab itu terkecuali terhadap orang mukmin. Maka muslim yang benar adalah berprilaku sebagaimana orang mukmin yaitu orang yang beriman terhadap Allah dan tidak pernah  mengeluh dengan musibah yang menerpa.


[1] Abil Qosim Muhammad Ibnu Ahmad bin Juuzy Al-kilby, Litashil liulumi Tanzil
[2] Tafsir Al-Baghwy
[3] صحيح مسلم برقم (299) بلفظ: "عجبا للمؤمن إن أمره كله خير" من حديث صهيب الرومي رضي الله عنه وليس في صحيح البخاري.

[4] Tafsir Al-Qur’anul Azhim Juz 4, hlm 437

Hak Asasi Manusia


A. Pengertian HAM
Secara bahasa kata Hak itu berasal dari bahasa arab حق – يحق – حقا yang bermakna milik, ketetapan dan kepastian. Sedangkan asasi bermakna dasar, pangkal. Asasi itu segala sesuatu yang bersifat dasar.  Dan makna manusia diartikan makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).
Hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.[1]
Menurut Dr. Syekh Syaurat Hussain, terdapat dua macam HAM jika dilihat dari kategori huquuqul ibad, yaitu: Pertama, HAM yang keberadaanya dapat diselenggarakan oleh suatu negara (Islam). Kedua : HAM yang keberadaannya tidak secara langsung dapat dilaksana-kan oleh suatu Negara.[2] Hak-hak kategori pertama bisa disebut juga dengan hak legal, karena keberadaan HAM dikuasai oleh negara atau pemerintah dan umat manusia tunduk patuh tidak berkuasa atas HAM tersebut yang diambil alih pemerintah, atau manusa tidak memliki kekuasaan HAM, dibeberapa aturan pemerintah. Sedangkan hak-hak kategori kedua bisa disebut juga dengan hak moral, karena setiap umat manusia memiki andil atas hak-haknya.
Menurut M. Quraish Shihab, ada 3 kata yang digunakan al-Qur‟an untuk menunjuk kepada manusia, yaitu: pertama, kata yang terdiri dari huruf alif, nun, dan sin (insan, ins, nas, atau unas); kedua, kata basyar; ketiga, kata Bani Adam dan zurriyat Adam.2 Kata “insan” berasal dari bahasa Arab al-Insan dengan asal kata nasiya–yansa yang berarti “lupa”. Kata insiyyan yang berakar kata ins yang bermakna “keadaan tampaknya sesuatu”, “harmonis”, dan “jinak”. Kemudian kata insan diambil dari kata naus yang berarti gerakan dan dinamisme. Makna-makna tersebut memberikan gambaran tentang sifat kodrat makhluk tersebut, yaitu manusia yang memiliki sifat lupa, memiliki kemampuan untuk bergerak dan melahirkan perubahan.[3]
B. Ruang Lingkup HAM
Di dunia internasional, bidang Hak Asasi Manusia mencakup hak-hak bidang sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya, serta hak-hak atas pembangunan. Hak-hak tersebut bersifat individual dan kolektif.[4]
Adapun hak yang ditetapkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, terdapat sepuluh macam, yaitu:
1.      Hak hidup
2.      Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan
3.      Hak mengembangkan diri
4.      Hak memperoleh keadilan
5.      Hak memperoleh kebebasan pribadi
6.      Hak atas rasa aman
7.      Hak atas kesejahteraan
8.      Hak turut serta dalam pemerintahan
9.      Hak wanita
10.  Hak anak

Pada makalah ini akan membahsa hak berkeluarga didalam alquran, untuk penjelasannya sebagai berikut:
Hak Berkeluarga
Didalam bab munakahat, fikih islam mengatur secara rinci pernikahan dan segala pembentukan keluarga. Manusia memiliki sifat naluri untuk membina keluarga, maka demikian manusia memiliki hak asasi untuk meneruskan keturunan-keturunannya. Nikah didalam islam tidak hanya membahas hal-hal yang terkait dengan urusan pascanikah, tetapi juga membahas urusan pranikah. Ini dapat dilihat pada surat ar-Rum : 21
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Qs. Ar-Rum : 21).
Imam Fakhruddin Ar Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib menjelaskan bahwa sakinah adalah rasa tenang dan tentramnya hati yang dirasakan dan didapatkan dari pasangan, tidak hanya istri bagi suami juga sebaliknya suami bagi istri.
Sebab istri bisa menjadi tempat suami mendapatkan ketentraman jika istri mendapatkan ketentraman pula dari suami. Hal ini timbul dari mawaddah, yang Ar Razi jelaskan sebagai rasa cinta kasih yang tercurahkan untuk pasangan. Serta dari rahmah, rasa kasih sayang yang mengalir dari pasangan.
            Sementara menurut Imam Qurthubi dalam tafsirnya, rasa sakinah atau ketentraman dalam rumah tangga yang dirasakan suami dari istri akan terlahir dari mawaddah; rasa cinta kasih yang terlahir dari sifat lahiriyah, dan dari rahmah; kasih sayang yang bersifat batiniyah dari sang suami. Hal ini yang menjadikan pernikahan melahirkan rumah tangga yang harmoni walau uban memutih.
Ayat diatas terdapat pelajaran yang diambil untuk bekal seseorang berkeluarga, diantaranya:
1.      Suksesnya dalam berumah tangga ialah tercapainya keluarga sakinah mawaddah warrahmah
2.      Untuk mendapatkan perlindungan dan pengarahan Allah SWT dalam mengarungi rumah tangga perlunya rasa ikhlas. Sebab rasa ikhlas itu jalan menuju keridhoaan Allah SWT.
3.      Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan agar manusia mendapatkan keturunan dan berkembang biak.
C. Analisis
Manusia memiki kemampuan utuk memilih, memilih jalan hidup terbaik menurut versinya masing-masing. Kemampuan itu tak lepas atas peran Allah memberikan kelebihan  dibandingkan makhluq-makhluq lainnya. Sebagai manusia, nafsu didiri manusia itu selalu selalu terdapat keinginan dan terus berkeinginan. Lantas bagaimana agar nafsu manusia terkendalikan? Islam hadir untuk itu, mengatur dan mengontrol nafsu manusia agar tidak keluar dari jalur kebenaran. Salah satu nafsu manusia itu ialah pernikahan, satu ikatan yang dibalutkan haram bisa jadi halal, menyatukan hubungan untuk satu tujuan yaitu sakinah mawadah warohmah. Singkatnya keluarga yang dihiasi dengan ketentraman jiwa, kasih sayang dan ampunan dari Allah SWT. Namun faktanya, terdapat beberapa keluarga yang tidak sesuai dengan konsep tujuan tersebut, bahasa kasarnya ialah keluarga yang hancur, cerai, berantakan, tidak ada ketenangan jiwa, tidak ada kasih sayang pada keluarga tersebut. Dan ada yang lebih nyeleneh yaitu, pernikahan yang dilegalkan berstatus sesama jenis atau LGBT(lesbian, gay, biseksual, trasgender). Islam tidak membenarkan keburukan justru islam menjelaskan dan mendidik manusia untuk berperlaku benar. Dari perinsip kebenaran itu, maka HAM harus sesuai dengan konsep islam. 




[1] Hikmat Budiman (ed), Hak Minoritas: Dilema Multikulturalisme,(Jakarta: Interaksi dan Tifa, 2005.), hlm.1
[2] Lihat, Syekh Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, Diterjemahkan oleh
Abdul Rochim C. H, (Cet. I ; Jakarta Gema Insani Press, 1996.), hlm.55
[3] Abd Muin Salim, Hak Asasi Manusia dalam al-Qur’an dalam Azhar Arsyad dkk (ed) Islam dan Perdamaian Global (Cet. I; Yogyakarta : Madyan Press, 2002.), hlm. 22
[4] Muchlis M. Hanafi,et. al “Hukum, Keadilan dan Hak Asasi Manusia”, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qu’an), hlm.278

Jumat, 01 Juni 2018

penjelasan surat an-nisa ayat 23-24

حرّمت عليكم أمهتكم وبنتكم وأخواتكم وعمتكم وخلتكم وبنت الأخ وبنت الأخت وأمهتكم التي أرضعنكم وأخواتكم من الرضاعة  وأمهت نسائكم وربائبكم التي في حجوركم من نسائكم التي دخلتم بهنّ فإن لم تكونو دخلتم بهنّ فلا جناح عليكم  وحلائل أبنائكم الذين من أصلابكم وأن تجمعو بين الأختين إلاّ ما قد سلف. إنّ الله كان غفورا رحيما

  • حرّمت عليكم أمهتكم وبنتكم وأخواتكم وعمتكم وخلتكم وبنت الأخ وبنت الأخت di haramkan kalian menikahi ibu kalian, anak perempuan kalian, saudara perempuan klian, saudara perempuan dari ayah kalian, saudara perempun dari ibu kalian, saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. 
         > para ulama mengharamkan 7 dari perkawinan. maksud diharamkannya disini karena satu susuan yang sama

  • وأمهتكم التي أرضعنكم وأخواتكم من الرضاعة juga mengharamkan ibu-ibumu yang menyusuimu dan saudara sepersusuanmu. >seperti halnya ibukandung maka haram juga menikahi ibumu yang menyusui dan saudara sepersusuan.

  •  وأمهت نسائكم وربائبكم التي في حجوركم من نسائكم التي دخلتم بهنّ  dan haram menikahi ibu-ibu dari isterimu(mertua) serta anak(tiri) yang berada di pengasuhanmu dari isterimu yang telah kamu gauli. > jika sudah menggauli isteri(yang sudah punya anak) maka anaknya(tiri) haram di nikahi.

  • وحلائل أبنائكم الذين من أصلابكم وأن تجمعو بين الأختين إلاّ ما قد سلف dan diharamkan menikahi anak isteri-isteri(menantu) kalian yang dari tulang sulbi kalian(kecuali anak angkat) dan dihramkan menggabungkan menghimpun pernikahan dua perempuan bersaudara kalian kecuali yang telah terjadi zaman terdahulu(jahiliyah).

Klasifikasi Ayat Al-Qu'an

KLASIFIKASI AYAT A. PENGHILANGAN NYAWA Surat Al-Baqoroh Ayat 191 وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أ...